Halaman

Selasa, 19 November 2013

tulisan 3 ibd

Nama  : Putri Komala Desi
Kelas : 1EA07
NPM    : 17213016
TULISAN 3

KASUS – KASUS PENDERITAAN

Penderitaan Korban Gempa Berlanjut

A Handoko dan Adhitya Ramadhan 
Sabtu, 5 September 2009 | 05:35 WIB 

KOMPAS.com - Hermawan (15) duduk termenung di pojok tenda. Tatapannya kosong. Jari tangannya memainkan ujung bajunya. Sesekali wajahnya diarahkan ke luar tenda, seperti mencari sesuatu. 

”Saya kehilangan nenek, ibu, dan tiga adik saya. Saya tidak bisa menyelamatkan mereka,” kata Hermawan, korban gempa di Desa Pamoyanan, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Jumat (4/9).

Khanah (50), nenek Hermawan; Tatin Handayani (35), ibu Hermawan; dan tiga adik Hermawan, yakni Itar Suwandari (11), M Devan (7), dan M Afansah (tiga minggu); tewas tertimbun bebatuan akibat gempa berkekuatan 7,3 skala Richter, Rabu lalu.

Sebelum gempa terjadi, Hermawan dan anggota keluarga yang lain berada di dalam rumah. Ketika gempa, keluarga itu langsung meninggalkan rumah dan lari menuju ke arah sawah.

”Ketika sampai di sawah, saya melihat tebing batu di belakang kami longsor dan langsung menimpa rumah-rumah. Ketika bongkahan-bongkahan batu mengarah kepada kami, kami lari lagi. Namun, hanya saya yang selamat. Mereka tertimbun batu-batu,” kata Hermawan.

Gempa yang terjadi Rabu lalu mengakibatkan 57 warga Desa Cikangkareng dan Desa Pamoyanan tertimbun longsor tebing batu, 21 orang di antaranya sudah ditemukan hingga Jumat siang.

Hermawan sebetulnya baru saja merasakan indahnya berkumpul kembali dengan keluarganya.

Kedua orangtua beserta tiga adiknya tinggal di Jakarta. Menjelang kelahiran adik bungsu Hermawan, ibunya kembali ke kampung. Ayah Hermawan, Anton (40), tetap tinggal di Jakarta, bekerja di sebuah perusahaan penyalur tenaga kerja ke luar negeri, dan baru kembali ke Cibinong begitu gempa terjadi.

Selain kehilangan keluarga inti, Hermawan juga kehilangan tiga keponakannya. ”Saya sangat sedih. Begitu banyak anggota keluarga saya yang meninggal dengan cara yang mengenaskan,” tutur Hermawan.

Tekanan psikologis akibat kehilangan orang-orang terdekat bukan akhir penderitaan Hermawan. Selama dua malam tinggal di pengungsian, Hermawan tidak bisa tidur. Selain karena masih merasa kehilangan orang-orang yang dicintainya, dingin malam membuat istirahat Hermawan terganggu.

Seperti Hermawan, ratusan pengungsi yang tersebar di sejumlah tenda darurat di Desa Pamoyanan dan Desa Cikangkareng juga mengalami penderitaan lanjutan setelah merasakan tekanan psikologis kehilangan anggota keluarga.

Aroh (35) yang tinggal di tenda pengungsian Cisalak, Desa Cikangkareng, mengaku tersiksa tinggal di pengungsian.

”Kalau siang hari panas sekali, ditambah lagi dengan debu yang beterbangan. Kalau malam juga dingin sekali, apalagi alasnya hanya terpal,” kata Aroh. Sepanjang Kamis, para pengungsi di Cisalak bertahan dengan perbekalan seadanya. Baru sore hari mereka mendapatkan pengiriman bahan makanan.


Mak Cicih diberikan bantuan oksigen karena sesak napas di posko kesehatan di kantor Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Jumat (4/9). Korban gempa yang tinggal di tenda pengungsian mulai mengeluh karena sakit perut, sesak napas, batuk, flu. Beberapa di antaranya pingsan.



AKIBAT –AKIBAT DARI KEGELISAHAN

Contoh kasus dari kegelisahan seorang ibu muda :
Bayi yang sering menangis dan rewel, pasti sangat meresahkan orang tuanya, apalagi jika itu buah hati pertama orang tuanya. Pengalaman pertama punya bayi pasti sangat merepotkan, terutama bagi mereka yang memelihara bayi tanpa supervising dari orang tuanya, dalam arti kakek-nenek si bayi. Tapi, jangan takut, bukan kesalahan anda jika sang bayi menangis terus, dan juga bukan kesalahan si mungil buah hati anda. Menangis, bahkan sampai sangat serius frekuensinya, umum terjadi pada bayi. Bayi yang tumbuh sehat serta cukup gizi sekalipun, akan tetap menangis. Justru menangis adalah tanda bahwa bayi anda sehat, asal dalam batas-batas tertentu.

Kecemasan yang timbul akibat penyesuaian diri dengan lingkungan mempunyai anak baru .  Kecemasan ini timbul karena orang itu takut bahwa anaknya terjadi apa-apa (sakit). Karena tidak mempunyai pengalaman sebelumnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar